Karakteristik Bahan Bakar

Karakteristik Bahan Bakar – Bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan pokok dengan semakin pesatnya perkembangan mesin dan industri. Hampir setiap keluarga di Indonesia pastilah memiliki kendaraan bermotor, tentu dapat dibayangkan berapa kebutuhan akan bahan bakar yang diperlukan.

Karakteristik Bahan Bakar
Karakteristik Bahan Bakar

Namun setiap jenis mesin tentunya membutuhkan bahan bakar yang berbeda karena karakteristiknya yang berbeda. Akan tetapi bahan bakar juga harus memiliki karakteristiknya tersendiri, untuk lebih mengetahui karakteristik bahan bakar berikut adalah karakteristik bahan bakar :

Karakteristik Bahan Bakar

1. Berat Jenis (Specific Gravity)

Berat jenis ini adalah perbandingan berat bahan bakar minyak pada temperatur tertentu dibandingkan dengan air pada volume dan temperatur yang sama yang digunakan untuk mengukur berat / massa minyak apabila volumenya diketahui. Berat jenis minyak umumnya antara 0,74 – 0,96 atau dengan kata lain minyak lebih ringan dibandingkan air

2. Viskositas (Viscosity)

Viskositas adalah suatu angka yang menyatakan besarnya hambatan dari suatu bahan cair untuk mengalir atau ukuran dari besarnya tahanan geser dari cairan. semakin tinggi viskositasnya, minyak makin kental dan semakin sukar mengalir. Untuk mengukur viskositas digunakan alat viscometer.

Ada bermacam-macam cara mengukur viscositas yaitu :

Redwood I diukur dalam satuan detik

Redwood II diukur dalam satuan detik

Saybolt Universal diukur dalam satuan detik

Engler diukur dalam satuan OE (merupakan hasil bagi dari perbandingan waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 200 cc minyak pada suhu 20°C dengan air sebanyak 200 cc pada suhu 20°C dengan viscometer Engler)

Kinematik diukur dalam Centistoke (mm2/s)

3. Nilai Kalori (Calorific Value)

Adalah angka yang menyatakan jumlah panas/kalori yang dihasilkan dari proses pembakaran sejumlah bahan bakar dengan udara/oksigen. Nilai kalori bahan bakar minyak berkisar antara 10.160 – 11.000 K cal/Kg. Nilai kalori berbanding terbalik dengan berat jenis artinya semakin besar berat jenisnya semakin kecil rendah nilai kalorinya. Sebagai contoh solar lebih berat daripada bensin, tetapi nilai kalorinya lebih besar bensin.

Nilai kalori diperlukan untuk dasar perhitungan jumlah konsumsi bahan bakar minyak yang dibutuhkan mesin dalam suatu periode tertentu. Nilai kalori dinyatakan dalam satuan Kcal/Kg atau BTU?lb (satuan british).

4. Kandungan Sulfur (Sulphur Content)

Meskipun dalam kadar yang sangat kecil namun kandungan belerang / Sulfur terdapat pada semua jenis bahan bakar. Sulfur ini tidak diharapkan karena sifatnya yang merusak. Saat terjadi proses pembakaran sulfur ini akan teroksidasi dengan oksigen menjadi Sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3). Oksida sulfur ini bila kontak dengan air merupakan bahan yang merusak / korosif terhadap logam – logam di dalam ruang bakar dan sistem gas buang. Karena itu kandungan sulfur dalam minyak perlu dibatasi.

5. Daya Pelumasan

Pada sistem bahan bakar motor diesel bahan bakar juga berfungsi sebagai pelumas pompa injeksi dan nosel. Karena itu bahan bakar mesin diesel harus mempunyai daya lumas yang baik.

6. Titik Tuang (Pour Point)

Titik tuang merupakan sebuah angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan bakar minyak dimana pada suhu tersebut bahan bakar minyak masih dapat mengalir karena gaya gravitasi. Titik tuang ini diperlukan sehubungan dengan adanya persyaratan praktis dari prosedur penimbunan dan pemakaian dari bahan bakar minyak. Bahan bakar sulit dipompa/dialirkan dibawah suhu titik tuang.

7. Titik Nyala (Flash point)

Merupakan angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan bakar minyak dapat terbakar bila pada permukaan minyak tersebut didekatkan dengan nyala api. Titik nyala diperlukan untuk keperluan keamanan dalam penanganan minyak terhadap bahaya kebakaran. Titik nyala ini dapat kita ukur menggunakan alat uji titik nyala minyak atau flash point tester.

8. Angka oktan (Octane Number)

Adalah suatu angka yang menyatakan kemampuan bahan bakar minyak (khususnya bensin) dalam menahan tekanan kompresi untuk mencegah bensin terbakar sebelum busi meloncatkan bunga api (ketahanan terhadap detonasi). Angka oktan merupakan angka yang membandingkan antara Normal Heptana yang memiliki oktan Nol dengan Iso oktan yang memiliki angka oktan 100.

Angka oktan ini yang saat ini menjadi salah satu faktor pembatas perbandingan kompresi motor bensin tidak dibuat tinggi. Semakin tinggi angka oktan semakin tahan suatu bensin terhadap tekanan kompresi yang lebih tinggi.

9. Angka Cetane (Cetane Number)

Adalah suatu angka yang menyatakan kualitas bahan bakar mesin diesel ynag diperlukan untuk mencegah terjadinya Knocking pada motor diesel. Mesin diesel putaran tinggi memerlukan angka cetane yang lebih tinggi. Untuk menentukan angka cetane digunakan bahan bakar standart yaitu campuran dari normal cetana (C16 H34) yang mempunyai waktu pembakaran tertunda sangan pendek denga α –methyl naptalene (C16H7CH3)dalam satuan volume. Bahan bakar yang diukur dibandingkan dengan bahan bakar standart.

Bahan bakar dengan angka cetane yang rendah akanmengakibatkan sifat-sifat pembakaran yang buruk dan mesin sukar hidup. Saat pembakaran tertunda panjang dan menyebabkan terjadinya detonasi.

10. Kandungan Arang

Kandungan arang pada bahan bakar harus sedikit mungkin. Kandungan arang ini digunakan untuk menaksir kemungkinan terbentuknya karbon pada proses pembakaran yang berasal dari bahan bakar minyak tersebut. Karena kandungan arang ini dapat menyebabkan tersumbatnya injektor atau terbentuknya deposit karbon pada ruang bakar.

11. Kadar Abu (Ash Content)

Kadar abu adalah jumlah sisa-sisa minyak yang tertinggal apabila suatu minyak dibakar sampai habis. Kadar abu ini dapat berasal dari minyak bumi itu sendiri atau akibat kontak didalam perpipaan dan penimbunan (adanya partikel metal yang tidak terbakar yang terkandung dalam bahan bakar minyak itu sendiri dan yang berasal dari sistem penyaluran atau penimbunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *